BANTENG DEVELOPMENT TEAM DI “BALI RUGBY FESTIVAL 2008”

Tito Vau

Dengan persiapan kurang lebih dua minggu dan setelah melewati proses seleksi yang ketat, Jakarta Banteng Rugby akhirnya mengirimkan Development Team-nya untuk mengikuti rangkaian pertandingan dan kegiatan Bali Rugby Festival 2008 yang bertempat di Sanur Bali, 9 – 10 Agustus 2008.Team photo 2008
Team Banteng Jakarta Rugby Series 2008Wajah-wajah Banteng muda dan baru mengisi posisi pada team ini dan bagi sebagian besar anggota team, inilah suasana pertandingan atau turnamen pertama yang mereka ikuti. Titik berat mengirimkan team ini memanglah untuk menggali pengalaman tanding bagi para pemain.Berangkat dari Jakarta pada petang hari, team mendarat di Bali pada malam hari dan langsung mendapat kabar tertundanya kedatangan Dave Nye sehingga tidak akan didampingi pelatih selama turnamen Bali Development 10’s berlangsung. Inisiatif diambil untuk mengadakan team meeting di hotel untuk mengatur strategi bertanding untuk keesokan harinya. Setelah merasa cukup saling memberikan wejangan dan semangat, team akhirnya beristirahat tidur.Matahari pagi menyambut para Banteng muda keesokan harinya. Sebagai team yang pertama datang ke lapangan, Banteng kembali mengasah taktik untuk pertandingan pertama melawan kawan sekaligus lawan lama – Bandung Rams!Peluit ditiup dan Bantengs menggebrak. Bola dibawa menerobos backs Bandung yang terkenal tangguh dalam men-tackle. Dukungan forwards langsung datang dan taktik ‘pick & go’ berjalan sempurna. Jika second rower Agustian menerobos, Rusman mendukung. Jika Tito di-tackle dua pemain lawan, Bayu dan Arvin selalu ‘go over the top’ untuk mengamankan bola. Satu kali, dua kali dan akhirnya para backs-pun berkesempatan membawa bola. Dimana ada seorang pemain Bandung, ada dua pemain Bantengs sehingga passing berjalan mulus. Arvin menunjukkan dirinya sebagai utlity forward yang dapat masuk ke maul dan ruck dan juga bermain sebagai extra back.Toshi yang bermain sebagai ‘inside’ menunjukkan ball skill yang baik serta kecepatan dan kekuatan yang prima bagi seorang pemula. Dalam waktu yang singkat, Bantengs telah berada jauh di dalam daerah lawan dan akhirnya sebuah head high tackle menghadiahkan penalti. Teguh – yang bermain sebagai scrum half dan baru beberapa hari sebelumnya belajar untuk menendang drop kick – memilih untuk menendang Bantengs-pun mencetak angka.Merasakan terkejut dengan penampilan ‘young guns’ Banteng, Bandung meningkatkan permainan dengan mengubah strategi. Sebelumnya mereka mengikuti irama Banteng dan kini mereka merubahnya dengan bermain cepat serta melakukan passing-passing cepat khas mereka. Dalam waktu relatif singkat mereka berhasil mengacaukan taktik Bantengs. Satu try untuk Bandung.Faktor ketangguhan dalam men-tackle dan membaca permainan serta tingkat kebugaran unggul menjadi penentu pertandingan ini dan walaupun kekuatan forwards disuntik tenaga hooker pengganti Edo yang begitu bersemangat, Bantengs harus mengakui keunggulan Bandung.Pada pertandingan kedua melawan tuan rumah Bali, Bantengs yang telah beristirahat singkat merasa lebih percaya diri lagi mengingat melawan Bandung, skor akhir tidak terlalu berbeda jauh. Bantengs juga merasa yakin jika Bali menurunkan team development-nya, keadaan akan sangat berimbang dan seru.Kejutan petama adalah diturunkannya pemain ‘pinjaman’ dari Dubai Knights Dwikie untuk Bali Chillis. Walaupun para backs Banteng berhasil melakukan tackle demi tackle, pada akhirnya faktor keberuntungan kembali berada di pihak Bali. Setelah tiga kali dihadang sekadar beberapa kaki dari try line Bantengs, Salah satu forward Bali Chillis akhirnya menemukan celah kecil, Bayu yang beberapa kali manghadang didukung para forwards terlambat seper-sekian detik menutup celah dan mereka mencetak try kemenangan.Pada game ini, bola mengalir lebih cepat sehingga beberapa kali Balipun dipaksa mengganti pemain development mereka dengan pemain asing yang lebih berpengalaman untuk menghadang serangan backs Bantengs. Sayang, beberapa kali pemain Bantengs kurang lengkap melihat permainan secara keseluruhan sehingga ketika sekali-kali bola Bali mengalir, mereka dapat melakukan overlap. Pelajaran berharga yang diambil adalah cara tackling yang benar untuk ‘memotong’ kaki lawan.Game ketiga, Bantengs menghadapi Sengatta Hornbills yang terkenal bersaing di tingkat senior dalam hal kekuatan forward pack-nya. Seperti biasa, Sengatta menurunkan Putu & Wayan sebagai andalan mereka sehingga Bantengs mengimbangi dengan memasukkan forwards berpengalaman Iswahyudi dan Tito sebagai pemain pengganti.Dua forward pack betarung keras melalui scrum yang terjadi satu demi satu sepanjang pertandingan. Secara mengejutkan, Banteng muda dapat menahan forwards Sengatta dan scrum Bantengs bahkan mendapatkan tight-head. Taktik line-out pun berhasil berjalan baik dengan eksperimen memasang hanya dua orang dalam lineout sehingga ada dua pemain tambahan di backs. Maykel akhirnya menunjukkan kecepatannya dengan menangkap pass manis dan memutari backs Sengatta untuk mencetak try pertama Bantengs. Adung yang sempat melakukan hands-off yang cantik, terbawa suasana panas dan mengepalkan tinjunya sementara melibas musuh dan tepaksa mendapatkan peringatan dari wasit. Bantengs jadi sedikit mengendorkan pertahanan. Akhirnya Sengatta membalas dengan satu try juga, namun try Maykel merupakan bukti bakat muda yang dimiliki Bantengs.Babak kedua berjalan tambah keras namun Toshi sekali lagi menunjukkan debut sempurnanya dengan mencetak try kedua tepat di bawah gawang. Sengatta terlihat emosional karena tamparan ini. Mulailah terjadi permainan ‘kasar’ dari pihak lawan. Pemain Banteng yang sudah terjatuh tidak hanya dilewati tetapi juga ditendang secara ilegal oleh pemain Sengatta! Darah panas bergolak dan hampir terjadi keributan jika pemain kurus Sengatta tersebut tidak diganti. Edo menunjukkan semangat bela teammate yang luar biasa dan menunjukkan rasa ‘Banteng brotherhood’ yang istimewa itu. Perlu dicatat skill Alton dan Agus dalam melakukan tackling pada pertandingan ini. Mereka menunjukkan bahwa ‘kaki pohon kelapa’-pun dapat ditebas. Akmal juga beberapa kali menunjukkan kemampuannya membaca permainan dengan baik dengan menendang bola keluar daerah rawan secara akurat dan presisi.Sayang, pada detik-detik terakhir, setelah tidak berhasil menerobos tackling Bantengs, forwards Sengatta melakukan tap and go akibat kesalahan off side Bantengs. Sengatta tinggal melewati 2,5 meter untuk mencetak try. Bayu sebagai prop berhasil berperan menahan laju Sengatta. Dua kali gagal menerobos dan hooter akhir berbunyi – tetapi wasit belum meniup peluit akhir! Bola mengalir keluar ruck Sengatta dan Banteng muda yang letih terfokus pada tumpukan ruck… mencari bola… Tak disangka, bola telah keluar di blind-side & walaupun telah berusaha untuk menghentikannya, Sengata mencetak satu try tambahan. 10-10! Sengatta menendang untuk mencari conversion… masuk… Sengatta menang tipis 10-12.Untuk beberapa waktu, para Banteng muda beristirahat dan makan siang di Sanur Village Festival yang sementara berlangsung di Grand Bali Beach Hotel. Mungkinkah ini strategi yang keliru? Perut yang tanggung kenyang sepertinya membuat Banteng muda mulai mengantuk dan lesu sementara pertandingan berikutnya adalah melawan Gosowong yang didukung pemain senior dan seorang pemain asing berkepala plontos yang emosi tinggi.Posisi sepenuhnya diisi pemain muda Banteng. Sayang, kombinasi panas terik, lelah dan kecewa karena keklahan tipis sebelumnya membuat Bantengs lambat untuk hangat. Dalam waktu singkat, Gosowong mencetak dua try dan pergantian pemain sepertinya tidak juga membantu. Komunikasi yang kurang berjalan dan kaki-kaki letih forwards yang terkuras habis membuat pejuangan akhir ini begitu berat.Pemain plontos Gosowong yang gemar protes dengan keputusan wasit selalu ingin melakukan tap and go, namun selalu gagal menerobos karena ia memang tidak terlalu bagus bermain dan juga karena ia mudah ‘dipotong’ oleh tackle Bantengs. Pada akhirnya, si plontos di-tackle menjelang try line. Menurut hemat para pemain yang berada di dekatnya dan juga para penonton di kemudian waktu, bola sebenarnya terlepas terlebih dahulu, namun toh wasit mensahkan try! Si plontos girang seperti anak kecil diberi permen oleh ibunya dan dengan menari-nari kembali ke barisannya. Bantengs tertunduk kecewa namun tertawa kecil melihat tingkahnya… ternyata badan besar tidak selalu mencerminkan jiwa besar…Adung kembali terbawa emosi jiwa mudanya dan melakukan high tackle. Pluit berbunyi dan wasit mengingatkannya bahwa ia telah dua kali diberi peringatan. Kartu kuningpun melambai dan Bantengs bermain kurang satu pemain. Untuk tidak mengambil resiko, Adung digantikan Ailton yang dengan baik melakukan beberapa run terobosan. Budi bermain luar biasa menjelang akhir dan melakukan tackle-tackle luar biasa terhadap pemain-pemain kuat. Teguh menunjukkan kelasnya sebagai pemain timnas dengan bermain penuh selama 4 kli pertandingan. Sayang, waktu bergulir begitu cepat dan kemenangan lepas sekali lagi.Sempat diwarnai ketidakpastian jadwal apakah bertanding lagi atau tidak, Bantengs dihampiri dua team untuk meminjam pemain. Ingin menjaga sikap sportifitas, Bantengs mempersilakan siapa yang ingin bemain untuk silakan bermain. Ailton, Adung dan Budi akhirnya mengenakan kaos biru muda Sengatta sementara Bayu dan Arvin bermain untuk Bali.Mengejutkan! Ailton dan Arvin malah mencetak satu try untuk team ‘baru’ mereka… Rangkaian pertandingan Bali Development 10’s pun berakhir dengan Bandung keluar sebagai juara setelah mengalahkan Gosowong.Para Bantengs muda menonton pertandingan final disinari cahaya mentari senja. Hasrat untuk suatu saat turut mencicipi kemenangan terpatri di hati…Main empat kali tanpa menang namun Bantengs muda meninggalkan lapangan dengan kepala tegak, badan tegap dan pandangan tajam. Mereka telah memberikan seluruhnya pada turanamen ini dan dengan rendah hati bersedia belajar. Kali ini, boleh saja team lain pergi dengan kemenangan tapi Bantengs pulang dengan pengalaman dan pengalaman itu adalah pelajaran yang paling berharga…