Beradu di Lapangan Berkawan Sesudahnya

Artikel di Media Indonesia, Jumat 09 September 2011.
———————————————–
epaper Media Indonesia

Unduh pdf nya di sini
—————————————-

Jakarta Banteng Club
Beradu di Lapangan Berkawan Sesudahnya

Rugbi bukan semata olahraga dengan kontak fisik. Itu juga memiliki filosofi dalam kehidupan.

CHRISTINE FRANCISKA

CAHAYA lampu sorot di lapangan hijau itu menyala pukul tujuh malam. Dari kejauhan suara teriakan yang sahut- menyahut terdengar nyaring. Sebagian pemain terlihat berlari, sementara yang lain berusaha menghadang. Tak jarang tumbukan dan gesekan di antara kedua tim terjadi.

Tiap Senin dan Rabu, lapangan sepak bola di daerah Simprug, Jakarta Selatan, itu berubah fungsi menjadi lapangan rugbi. Sejak 2005, Jakarta Banteng Club (JBC) sudah rutin latihan ditemani pelatih. Sebagai hobi, mereka terlihat serius menggarap rugbi, dengan harapan olahraga itu bisa berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang. Uniknya, pemainnya datang dari latar belakang beragam. Dari Indonesia bagian timur, barat, hingga kaum ekspatriat campur menjadi satu. Usianya pun bervariasi antara 14 dan 40 tahun.

“Komunitas kami sangat mix culture. Semua orang punya latar belakang yang berbeda. Tapi entah kenapa, itu yang justru bikin kita sangat kekeluargaan,” kata Fikri Al-Azhar, 29, salah satu pegiatnya. Fikri yang sehari-hari bekerja di sebuah yayasan mengenal rugbi sejak 2005. Ia merasa tertarik dengan olahraga itu karena menuntut disiplin tinggi dan kerja tim yang kuat. Sebagai olahraga yang menuntut untuk melakukan kontak fisik, rugbi juga dinilai sebagai sarana yang pas untuk menyalurkan emosi. “Kalau di rugbi, emosi dan tenaga sudah habis untuk menekel lawan. Makanya kita enggak pernah berantem. Beda dengan sepak bola atau basket. Mereka tidak bisa menyalurkan emosi jadi gampang tersulut konflik di lapangan,” jelas pria yang kini didaulat sebagai Ketua JBC.

Nilai hidup
Lebih dari itu, menurut Tito Vau, 39, yang bermain rugbi sejak umur tujuh tahun, permainan rugbi mencerminkan sebuah mikro kosmos kehidupan manusia. Seperti hidup, ada kalanya pemain harus berlari sendirian. Di saat-saat tertentu ia juga memerlukan bantuan dan ditolong orang. Kadang pemain juga harus lari dari masalah. Namun, tak jarang, ia juga harus belajar menghadapinya dan menerjang sekuat tenaga.

“Sama juga seperti hidup,kita bisa kalah dan menang. Tapi apa pun hasilnya, kita harus maju terus, berusaha terus hingga pertandingan selesai,” kata Tito. “Dalam rugbi kita juga harus menghargai lawan sama seperti kita menghargai tantangan dalam hidup. Jika tak ada lawan dan tantangan, apa serunya permainan?” Sebagai salah satu pemain senior, Tito memang sering memperhatikan bagaimana karakter orang ketika bermain rugbi. “Orang yang gigih akan nabrak terus dan yang penakut akan cepat menyerah. Karakter manusia bisa tecermin dalam satu permainan. Banyak nilai nilai hidup saya pelajari dari rugbi,” lanjutnya. Tito yang kini aktif menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi mengenal rugbi sejak sekolah di Australia. Setelah bekerja, ia sempat vakum bermain tapi kembali menekuninya sejak menemukan Jakarta Banteng Club lewat internet. Menurut Tito yang juga pernah bermain di belasan klub, JBC memiliki rasa persaudaraan yang paling kental. “Kita punya saling menghormati. Ada perbedaan ras dan usia, tapi tak jadi penghalang.”

Sejak lama Di negara-negara persemakmuran Inggris, olahraga ini memang cenderung populer. Di negara seperti Singapura dan Malaysia, klub rugbi tergolong kuat dan maju. Namun, di Indonesia, olahraga ini baru masuk pada 1970-an, dibawa kaum ekspatriat yang kebanyakan bekerja di perusahaan pertambangan. Pada 2004, terbentuklah Asosiasi Pengembang Rugby Indonesia yang digagas ekspatriat dan orang lokal. Setahun kemudian terbentuk Jakarta Banteng Club yang latihan rutin tiap Senin dan Rabu. Awalnya, tak banyak orang tertarik. Walau latihannya tidak dipungut biaya apa pun, rugbi masih terkesan asing di telinga masyarakat. Anggapan olahraga itu keras dan berbahaya juga jadi penghambat. “Pernah latihan yang datang Cuma tiga orang. Akhirnya ya batal. Enggak mungkin main bertiga saja,” kata Fikri. Seiring dengan berjalannya waktu, kini rugbi mulai dikenal. Terutama jadi popular di kalangan SMA yang membentuk klub rugbi di sekolahnya. Anggota JBC juga makin bertambah hingga lebih dari 50 orang. Tiap tahunnya, ada dua kejuaraan besar yang bisa dijajal, yaitu Bali Rugby Fest dan Jakarta Rugby Tournament. “Tahun lalu kita menang di Bali. September ini akan kembali bertanding untuk mempertahankan juara,” lanjut Fikri. Banyak orang salah kaprah dengan menyamakan rugbi dengan American football. Walau memakai bola yang sama, peraturan kedua olahraga itu jauh berbeda. Dari segi kostum misalnya, pemain rugbi tidak perlu memakai set pelindung bahu, pinggul, siku, serta helm. Aturan yang berlaku dalam rugbi pun berbeda. Misalnya, bola tidak boleh dilempar ke depan, tapi harus ke belakang.

Tak seperti American football yang memiliki tim penyerang dan bertahan, rugbi hanya memiliki satu bagian tim yang terdiri dari 15 atau 7 pemain. Karena itu, intensitas permainan rugbi tak sekeras American football.
“Kita tidak pernah ada konflik di lapangan. Seusai pertandingan pasti bersalaman, saling beri semangat, dan ucapkan terima kasih. Kita selalu diajarkan bahwa apa yang terjadi di lapangan, tinggalkan di lapangan,” kata Tito. (M-6)

christine@mediaindonesia.com

Testimoni


Daniel R Nugraha, 22
Mahasiswa Universitas
Tarumanegara Jakarta

“DULU, seperti anak SMA lain saya suka main basket atau sepak bola. Tapi sejak kenal rugbi lewat teman, saya jadi jatuh cinta sama olahraga ini. Saya enggak pernah bosan berlatih karena tiap latihan kita selalu belajar hal baru. Hal kecil seperti kurang komunikasi, misalnya, ternyata sangat penting. Sportivitas juga dijunjung tinggi. Selain latihan Senin dan Rabu, saya juga rajin lari dan fitness untuk latihan fisik. Inginnya nanti bisa betul-betul bermain profesional di luar negeri.”


Ari Yudha Pramono, 17
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

“RUGBI bukan olahraga untuk orang bertubuh besar saja. Saya yang badannya kecil pun bisa gabung karena saya bisa lari lebih lincah daripada yang lain. Banyak yang bilang olahraga ini berbahaya, tapi bukannya semua hal yang kita kerjakan memang punya risiko tertentu? Untungnya saya memang enggak pernah cedera parah hingga patah tulang. Rugbi itu beda dari yang lain, tidak monoton karena membutuhkan kekuatan fisik, pikiran, juga kecepatan.”


Michael Bavin, 25
Pengusaha

“WAKTU saya sekolah di Australia, rugbi memang jadi mata pelajaran wajib. Setelah kembali ke Indonesia, saya bergabung di Jakarta Banteng Club untuk main lagi. Tapi, saya main sebatas hobi. Latihannya memang agak berbeda jika dibandingkan dengan di Australia dulu. Tapi yang saya suka di klub ini adalah kekeluargaannya sangat kuat. Untungnya, orang lokal juga banyak yang mengerti bahasa Inggris jadi saya tidak kesulitan untuk berkomunikasi.”