Banteng Pertahankan Gelar Juara Nasional Rugby 7s

by Tito Vau
Assistant Coach/Tour Manager 2011

“The only place ‘success’ comes before ‘work’ is in the dictionary…” – Anonymous (Satu-satunya tempat dimana ‘keberhasilan’ didapatkan sebelum ‘kerja’ adalah di dalam kamus)

Seberapapun besarnya cinta dan dedikasi seseorang terhadap Rugby, tentunya dalam hati kecil terdalam ada keinginan bukan hanya untuk sekadar bermain tetapi juga untuk menang. Dilema yang kerap timbul adalah, seberapa besar yang kita rela korbankan demi dapat bermain dengan performa terbaik sehingga dapat mencapai kemenangan tersebut.

Apakah kita rela berkeringat, terengah-engah dan terkadang berdarah-darah demi mencapai tujuan? Apakah kita rela mempertaruhkan sedikit gesekan dengan keluarga, teman dan pekerjaan demi meraih cita-cita? Apakah pada akhirnya kita masih memiliki rasa “lapar” dan semangat sementara halangan dan rintangan sepertinya tiada akhir berusaha mematahkan kita?

Dengan semua tantangan baik individu maupun secara klub, Jakarta Banteng Rugby Club memulai petualangannya di tahun 2011 untuk berjuang dan mempertahankan gelar Juara Putra, Kejuaran Nasional Rugby 7s yang diadakan di Canggu Club – Bali, 24-25 September yang lalu. Namun tantangan sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum keberangkatan tim ke turnamen ini.

Dikarenakan jadwal Rugby World Cup 2011, turnamen tahun ini dimajukan untuk mengakomodir fans Rugby yang ingin menyaksikan pertarungan puncak olahraganya ini, sehingga persiapan umum JBRC sedikit terbatas dibandingkan tahun lalu. Sebagian besar persiapan tim bertepatan dengan bulan Ramadhan dan Lebaran yang semakin mempersingkat waktu, sehingga persiapan umum fisik tidak seoptimal tahun lalu.

Meski demikian, Banteng tetap melakukan persiapan semaksimal mungkin. Pelatihan yang dipimpin Coach Jamie dimulai dengan perubahan pola bermain dari kebiasaan bermain XVs bergeser ke 7s, dilanjutkan dengan pendalaman teknik kemudian taktik 7s. Banyak sekali ilmu baru yang didapatkan pemain dan pada akhirnya terpilihlah tim terbaik yang akan diberangkatkan terdiri dari para pemain senior, baru dengan beberapa ‘newbies’ alias pendatang baru ke JBRC.

Sedikit drama-komedi terjadi di bandara Soetta ketika pemain yang telat berkumpul disepakati akan memakai rok selama tour ini. Michael Bavin dan Bahrul yang terakhir datang berebutan untuk berkumpul bersama Banteng lainnya. Bavin begitu bersemangatnya hingga menabrak hape Pak Ustadz jatuh ke lantai. Sementara Bahrul mencari-cari hape-nya, Bavin berlari ke Banteng dan Bahrulpun diserahkan rok mini pink untuk dipakai. Sayang, Bahrul merasa warna pink kurang cocok untuk tone kulitnya sehingga ia urung melaksanakan hukuman.

Setelah perjalanan singkat dan tiba di Pulau Dewata, seperti ritual tahun sebelumnya Banteng melakukan training ringan di Pantai Kuta pada sore hari. Walaupun adalah beberapa pedagang yang complain dengan pasir berterbangan yang sedikit mengenai turis yang sedang menikmati sunset, toh Pak Guru Musi yang selalu memiliki jawaban dengan tanggap membalas: “Sunset-nya aja ketutupan awan koq Pak… Santai aja kali… bentar lagi juga bebas dong…”

Malam harinya dilakukan team meeting di pinggir kolam renang hotel AP Inn (not recommended… hehehe) membahas persiapan untuk keesokan hari serta menentukan waktu berkumpul dan lain sebagainya. Malam terasa begitu panjang mungkin karena antisipasi pertandingan-pertandingan yang akan berlangsung besoknya… Namun Banteng sepakat bahwa semua kerja keras, usaha dan upaya serta takdir kini telah menyatukan kita dan esok hari menjelang, kami akan memberikan yang terbaik!

Pagi hari Banteng berkumpul dan secara kebetulan seorang ibu pemuka agama sedang melakukan persiapan berdoa di Pura hotel yang tidak recommended tadi itu. Banteng sepakat untuk meminta doa dan restu sebelum bertanding. Suasana khusyuk sementara ibu tersebut mengucapkan doa… Banteng berdiam dan mengikutinya… Tiba-tiba, ibu itu menciprati Tito dengan air, menaruh tangan di atas kepalanya dan merebut bola dari tangannya serta melemparkannya ke depan seraya berbicara dalam bahasa Sansekerta!

Tito hampir saja mengatakan bahwa dalam Rugby dilarang melakukan passing ke depan tetapi sadar bahwa itulah cara ibu tersebut memberikan restunya….

Dengan menumpang dua mobil, Banteng memulai perjalanan ke Canggu. Belum satu kilometer dari hotel… mobil mogok karena habis bensin! Cecep deh… Untung saja Banteng tanggap dan mendorong mobil hingga ke tempat parkir yang aman. Rusman langsung tanggap dengan mengendarai ojek untuk membelikan bensin di pinggir jalan… Sungguh dedikasi tinggi dari pelestari lingkungan kita yang satu ini. Jempol untuk Rusman Bo’!

Banteng kemudian makan siang dulu di Pasar Senggol sambil berdendang melepas ketegangan dengan menyanyikan tembang lawas “Cerita Cinta” oleh Kahitna… Tepat sekali karena inilah cerita cinta Banteng terhadap Rugby! Heran sekali, ada satu pemain yang hanya menatap menerawang saat mendengarkan kata-kata lagu tersebut: “…berawal dari mata… indahnya senyuman… mengapa harus resah…” Bukan Scot lho… tapi itu tuh, ehm-ehm… Kakak itu tuh… hehehe…

Singkat cerita, setibanya di Canggu Club terjadi sedikit perebutan jatah toilet karena hampir semua pemain ‘nanggung tadi pagi’ saat setoran ke jamban… Biasa itu, Banteng kan suka grogi di awal-awal…

Pertandingan pertama menghadapi Gosowong pun menjelang dan starting 7 Banteng diturunkan. Highlights pertandingan yang paling terkesan adalah deg-degan dikarenakan Daniel sempat terkeluar pundak yang cedera saat Timnas tahun ini! Untungnya, walaupun belum sempat memainkan permainan tercantiknya, Banteng dapat mengatasi lawan 21-5. Awal yang bagus meski distribusi bola belum maksimal ke wingers kita…

Pertandingan kedua melawan Matano berjalan sangat menegangkan dikarenakan nyaris beberapa kali defense Banteng terlalu ringan membiarkan lawan lewat. Untung sekali ada Yucil yang dengan berani berkomitmen untuk melakukan tackle-tackle keras.

Di game ini pula beberapa pemain baru diberikan kesempatan merumput dan mereka sangat tidak mengecewakan! Max bermain dengan baik ketika dipasang berduet di outside dengan Yucil dan dengan segala daya dan upaya, pada akhirnya Banteng unggul 12-0.

Game ketiga yang merupakan game terakhir di hari pertama turnamen, Banteng berhadapan dengan Bali Development alias Hanoman Black. Permainan Banteng semakin solid walaupun belum sempurna tapi saat peluit akhir ditiup, terlihat dominasi Banteng dari skor akhir yaitu 22-0.

Gelap malam mulai menyelimuti Bali ketika Banteng mencari makan malam… dimana lagi kalu bukan di… BU RUDI!!! Sayap-sayap ayam menyambut juara tahun 2010 dengan hangat dan pedas… Tiada kata dech… Yummy aja.

Malam itu Banteng tidur cepat-cepat setelah beberapa pemain melakukan ritual ice bath dikarenakan pertandingan pertama esok hari kickoff jam 8 pagi. Perempat final melawan Navy.

Dengan kantuk yang masih menggelantung di kelopak mata, Banteng menyambut pagi hari Minggu dengan tekad untuk meneruskan kemenangan. Sarapan singkat di pos satpam dengan nasi bungkus seharga empat ribu Rupiah harus mencukupi… Kita kembali ke medan laga menghadapi lawan.

Kickoff dimulai tidak lama dari setibanya Banteng di lapangan. Navy yang belum mengantongi kemenangan begitu bersemangat dan sempat beberapa kali mengeksploitasi kekurangan defense Banteng dengan permainan acak-acak namun menggebrak. Mereka merupakan salah satu dari dua tim yang mencetak try melawan Banteng selain Gosowong, namun Banteng tetap unggul 17-7.

Menunggu pertandingan kedua, banyak Banteng yang tertidur menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapu Canggu. Ta’ke Denny, Musi dan Bahrul, Max dan Akmal sempat lah tertidur atau tidur-tidur ayam sejenak. Kalau Alton? Enggaklah… Ia mengusir kantuk dengan meregangkan kakinya ke tenda seberang… ‘nuff said.

Memasuki semifinal, Coach Jamie tiba di Canggu dan suasana menjadi lebih serius. Sampoerna, Marlboro dan Dunhill hilang dari pandangan… walaupun tetap ada sih…

Di semifinal, Banteng bertemu dengan Sumbawa Naga oi, oi, oi, beserta Nagettes Cheerleaders-nya… Yang penting sih bukan cheer-nya tetapi mainnya… Yucil kembali menunjukkan kegilaan tacklingnya pada pertandingan ini! Musi akhirnya mencetak juga try dan Marco mengeluarkan keganasan dan keberingasannya walaupun sempat cut-in ketika seharusnya menghajar lurus. Toh pada akhirnya, skor 19-0 untuk Banteng.

Secara mengejutkan, Kotekas mengalami kekalahan dar Gosowong di semifinal yang satunya sehingga partai puncak adalah ‘ulangan’ pertandingan perdana yaitu Banteng VS Gosowong!

Kickoff dimulai dan mulailah keluar permainan Banteng yang indah untuk disaksikan (akhirnya!). Try pertama dicetak Banteng dan kemudian terjadi beberapa call yang membingungkan dari wasit. Memang sih, beliau juga pastinya berusaha untuk melakukan sebaik mungkin tetapi beberapa calls-nya benar-benar tidak dapat dimengerti. Bukan kami bilang mau complain lho… Tapi ya gitu dech…

Gosowong berhasil membalas dengan try sebelum paruh waktu dan skor 5-5 ketika babak kedua dimulai. Tegang!

Disinilah terlihat betapa bergunanya persiapan yang telah dilakukan oleh Banteng. Tanpa mengenal menyerah, Banteng konsisten dengan pola Sevens yang telah dilatih oleh Jamie. Bola semakin lancar terdistribusi. Bola-bola cepat dari scrumhalf Fikri semakin baik dan Bavin pun cepat passing ke luar.

Akmal dengan kecepatannya berlari kencang dan menarik tackler sebelum melepaskan pass ke Musi atau Max. Darius konsisten menghajar lawan yang berani masuk ruck dan Alton yang akhirnya diizinkan bermain kembali oleh Coach tidak mengecewakan dengan beberapa kali melakukan terobosan. Scot sangat baik dalam merebut bola lawan, kerjasama dengan Daniel. Fendy alias Bruce Lee dengan berani mengguncang dan mengganggu setiap scrum dan dengan cekatan berusaha selalu mengambil quick tap. Rusman tanpa ampun menghantam lawan berulang kali dan Bahrul bermain sangat baik ketika menggantikan Fikri di scrumhalf maupun ketika Yucil tidak dapat melanjutkan tugasnya di wing. Max melakukan tackle-tackle hingga berdarah-darah kepalanya… Yucil? Aduh… Yucil bermain layaknya ksatria mini di lapangan… Banteng sangat beruntung memiliki pemain yang hati dan semangatnya begitu besar ini… (walaupun badannya masih kecil ya…)

Tiga try (satu conversion) di babak kedua ini mengakhiri perlawanan Gosowong untuk kedua kalinya pada turnamen ini… Banteng unggul 22-5 dan mempertahankan gelar Juara Nasional Rugby 7s Putra di tahun 2011 ini!

Seperti biasa, tour virgins melakukan pawai cangcut, bir mengalir dan tawa candapun terdengar… Bebas dong…

Sementara ini berlangsung, Yucil ditemani Akmal dan Denny pergi ke RS untuk memeriksa cedera pipinya… Sebagai catatan, cedera ini membuat mukanya semakin mirip Daus Mini dengan tampangnya yang menahan sakit dan tidak dapat tersenyum tersebut. Sejuta jempol untuk Yucil!

Akhir hari itu diisi Banteng dipimpin Captain Daniel menari-nari bersama Kotekas yang menyanyikan lagu: “… (piala itu) Banteng yang punya, Banteng yang punya…” Sungguh respek untuk Koteka, sembari mewanti-wanti bahwa mereka akan semakin ‘lapar’ untuk merebutnya dari Banteng tahun depan.

Kembali ke hotel dengan badan lelah namun hati yang riang. Pengorbanan dan hasrat terbayar dengan berhasil dibawanya Piala Kejurnas Rugby 7s sekali lagi ke Jakarta.

Tour yang indah, tidak terdapat cedera serius…

Terimakasih untuk dukungan semua Banteng, sponsor, serta pendukung lainnya. Kerja keras memang terbukti menghasilkan sukses…