Craig Senger Cup 2011 – Regenerasi Akrab tanpa Batas

by Tito Vau

Setelah tertunda beberapa waktu karena padatnya kompetisi serta kalender Rugby yang bergeser untuk mengakomodir RWC 2011, Jakarta Banteng Rugby Club akhirnya berkesempatan untuk menyelenggarakan acara tahunan “Craig Senger Cup” di penghujung tahun 2011, tepatnya pada Sabtu 10 Desember 2011 yang lalu. Acara ini merupakan acara tahunan kita untuk mengenang saudara kami Craig Senger yang terbunuh saat Bom JW Marriot dua tahun yang lalu. Acara tahun lalu dapat dibaca di sini

Bertempat di ‘homeground’ JBRC Lapangan Pertamina Simprug, sekitar 30 personel Banteng, dimana sekitar 70% merupakan pemain baru dan junior berkumpul pada hari panas dengan kondisi lapangan berdebu akibat musim pancaroba yang sedang berlangsung. Kali ini, Banteng juga merasa sangat senang untuk dapat menyambut tiga anggota “Front Row Rugby Club” dari negri jiran Malaysia sebagai tamu kehormatan yang berkesempatan turut bermain bersama kami.

Format pertandingan disesuaikan dengan jumlah pemain yang hadir sekaligus mempertimbangkan jenis exposure yang ingin diberikan kepada para pemain junior, sehingga pada akhirnya disepakati bahwa Rugby Tens-lah yang akan dimainkan. Setelah semua pemain melakukan tradisi “suten” agar pembagian adil, didapatkanlah dua tim internal yang akan bertanding yakni “Britmindo Ting Ting” yang mengenakan jersey Batik Hitam dan “Medikaloka Wibowo” yang mengenakan jersey baru merah-putih.

Kickoff dilakukan oleh Wibowo setelah wasit Fikri meniup peluit dan secara tenang ditangkap dan dikelola oleh backline Ting-ting yang dimotori Fendy dan Ben sebagai fly-half & inside centre. Ruck pertama terbentuk dan bola secara lancer keluar dan distribusikan secara ciamik oleh scrumhalf Bahrul. Satu-dua pass tepat dan bola tertangkap Musi di wing kanan yang melesat dan menggocek sebelum melesat kembali untuk mencetak try pertama.
Kickoff kedua kini dilakukan oleh Ting-ting dan forwards yang dipimpin Captain team, Wonderboy Daniel berhasil sedikit mengacaukan Wibowo. Entah bagaimana, bola yang sempat bergulir di backline Wibowo berhasil di turnover dan tidak lama kemudian, Ting-ting pun kembali mencetak try.

Merasa bete karena distribusi bola kurang berjalan baik, Wibowo mengalihkan taktik dengan menggunakan keunggulan ukuran tubuh melalui Wally, Sumo, Soso & anak baru gendut lainnya yang saya lupa namanya… Intinya, taktik ini berhasil menekan Ting-ting dan Wibowo pun membalas dengan mencetak try. Ting-ting tidak berdiam diri menghadapi ancaman baru ini dan menjelang akhir babak pertama mencetak satu lagi try sehingga ketika peluit berbunyi berhasil unggul tiga try lawan satu.

Babak kedua dimulai dan Wibowo sempat menggebrak dengan mencetak try terlebih dahulu, sekali lagi dengan mengandalkan crashing runs yang menggemparkan. Banyak pemain senior yang mulai ‘eling’ bahwa udara panas dan debu yang berterbangan dapat mengganggu kestabilan fisik yang mereka perlukan untuk sisa akhir pekan sehingga dengan legowo memberikan para pemain junior kesempatan untuk menggantikan mereka. Para pemain junior tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan dengan semangat memberikan permainan terbaik mereka. Silih berganti try terjadi namun pada akhir babak kedua, Ting-ting tetap unggul dua try, 35-25 atas Wibowo.

Dengan berakhirnya babak kedua ini, bisa saja pertandingan berakhir tetapi mengingat waktu sewa lapangan masih panjang dan semangat bermain masih tinggi ‘panitia’ memutuskan memainkan satu babak tambahan. Dengan gagah berani salah satu pemain lama yang baru bergabung kembali dan bermain untuk Ting-ting, Agustian, menunjukkan kepiawaiannya mengolah bola dengan menggocek pertahanan lawan. Tidak puas berkilau saat menyerang, Aguspun ingin menunjukkan kebolehannya menghentikan serangan dari tim Wibowo dengan berusaha Sumo, pemain tamu dari Front Row… BOOM! Agustian ‘dicium’ telak oleh kepala/ pundak Sumo dan terkapar dengan rahang terkunci dan pandangan melayang-layang. Terimakasih Sumo telah membagi 105 kilogram berat badanmu dan kaki drumstick KFC raksasamu dengan pemain Banteng… Jempol untuk Agustian yang menerimanya dengan gagah!

Pertandingan terus berlangsung dan melalui terobosan-terobosan Mono yang menundukkan kepala dan berlari lurus tanpa peduli apa yang menghadang, Wibowo berhasil mencetak beberapa tries yang cemerlang setelah fase kedua dan ketiga mendistribusikan bola ke sayap dimana wing temannya Jamal yang namanya lupa juga menerobos pertahanan Ting-ting. Acungan jempol untuk anak-anak junior seperti Aulia, Sude dkk yang terdistribusi di kedua tim. Juga untuk Sherman, Tommy dan Margha serta Thomas Taji yang selalu mengandalkan kekuatan individual untuk menggabungkannya dengan kekompakan tim masing-masing.

Didi yang melakukan comeback-nya, Kucluk & Yucil yang berlari-lari bak tupai dan juga Yudi yang walaupun bermain untuk waktu yang relative singkat, namun menunjukkan ball handling dan attacking the gap yang sangat baik.
Pada akhir pertandingan, Ting-ting unggul kira-kira 55 – 40.

Apakah hasil itu memuaskan? Apakah dengan Ting-ting berhak mendapatkan gelar pemegang Craig Senger Cup 2011 maka para pemain merasa senang?

Jujur saja, ketika pertandingan sudah selesaipun (dan tanpa mengurangi rasa hormat untuk Craig Senger Cup), para pemain bahkan sempat hamper lupa untuk melakukan upacara penyerahan piala… Bukan karena apa-apa, melainkan karena suasana begitu menyenangkan dan membesarkan hati sehingga kebahagiaan melihat anak-anak muda/ junior bermain dengan semangat cukup untuk membuai para anggota JBRC dan para pemain tamu dari Front Row…

Agustian mendapatkan jersey sebagi imbalan atas ‘ciuman’ dari Sumo, Ting-ting berfoto bersama dengan memegang Craig Senger Cup, minuman dingin tersedia baik yang berupa ringan maupun tidak ringan untuk semua yang hadir (thanks Denny!) dan obrolan mengenai pertandingan, perbaikan gerakan dan lain-lainpun berlangsung dalam suasana hangat dan akrab. Sebagai klub Rugby yang sedari dahulu selalu menekankan pentingnya pengembangan di tingkat muda, tidak ada yang lebih membesarkan hati daripada melihat para pemain junior menikmati hari yang indah ini dengan bermain dan belajar bersama para pemain senior.

JBRC kembali membuktikan dan mengamalkan bahwa Rugby memang bukan saja mengenai siapa yang menang dan kalah saat bertanding, tetapi lebih jauh lagi mengenai persaudaraan yang terjalin berdasarkan nilai-nilai sportifitas, saling menghargai dan keakraban yang melintasi perbedaan yang terlihat di permukaan.
Semoga Craig Senger-pun tersenyum di alam sana, melihat kontinuitas positif ini berlangsung terus di Jakarta Banteng Rugby Club tercinta…

One thought on “Craig Senger Cup 2011 – Regenerasi Akrab tanpa Batas

Comments are closed.