Jakarta 10s 2012: captain’s and manager’s report

Jakarta Tens 2012 – Captain’s Report (By Marco Sebastian)

First of all Congratulations for being the “Top 8” team in the tournament! It was a long and exhausting day but was fun and memorable at the same time! Hope everyone enjoy it as much as I did.

Boleh dibilang road to this tournament sama sekali tidak mudah. Persiapan dan waktu latihan kita sering kali tidak maksimal dan terhambat oleh hujan, minimnya pemain yang hadir, pemain yang berganti-ganti, cedera dan lain sebagainya.. Terlepas dari semua itu, kita semua dapat bersatu dan bermain full out pada hari sabtu itu demi satu nama “Banteng”.

Dalam semangat kita boleh bangga karena benar benar terasa fighting spirit Banteng all day long.. It’s a good quality to have but at the end of the day we have to admit… that is not enough..! Kita masih sangat kurang dalam individual skills, team work, stamina and knowledge of the game..

Mari kita ambil semua positif dari tournament ini dan gunakan lagi kedepannya namun tidak lupa untuk introspeksi lagi untuk hal-hal yang masih kurang agar kita bisa menjadi lebih baik lagi untuk ke depannya sebagai pribadi dan tim JBRC.

Bagi semua pemain, janganlah berkecil hati apabila belum mendapatkan jam main yang significant atau melakukan kesalahan di lapangan. Di JBRC tidak ada pilih kasih dan kami berpegang teguh untuk menempatkan “the best player on the field” siapapun itu. Jadikan semua kekurangan sebagai suatu motivasi untuk lebih maju.. Berlatihlah lebih giat, lebih serius, lebih intense, dan jangan pernah cepat puas. “Even the sky has no limit”
Last but not least, thank you kepada semua pihak yang telah memberikan support kepada Banteng. We might never be able to thank you enough.

Tournament’s Report (By Tito Vau)

Game pertama melawan tim Rugby dari Timor Leste Benfica Karau dapat dilalui dengan aman. Untung juga sih karena saat itu Karau belum diperkuat pemain-pemain pinjaman dari klub lain. Skor tipis, hanya 10 – 5 tetapi mengingat Banteng terkenal lama hangat, hasil ini cukup menggembirakan. Sayang Yucil kena hantam di game ini dan sempat linglung juga. Tapi Banteng perlu bangga sedikitlah di game ini, bukan hanya karena menang tetapi juga karena kita pernah main lawan team Rugby dari Timor Leste… Demokrasi termuda di muka Bumi…

Game kedua hati Banteng sedikit galau… Bagaimana tidak sementara game tersebut adalah melawan BIS Baa Baas dimana terdapat Coach Jamie, Scotty & beberapa pemain Banteng sendiri antara lain Adrian, Echo & newbies dari UNJ…
Di game ini, entah kenapa, Banteng sedikit kendur tingkat disiplinnya… Diiringi kejadian jatuhnya korban cedera paling serius hari itu, yakni Agustian yang terduduk pemain gendut lehernya lalu “meringkel” seperti kerupuk dan harus ditandu, Banteng hanya menang tipis 7 – 5! Kabar gembiranya adalah bahwa Agustian baik-baik saja pada akhirnya, walaupun tidak diturunkan lagi untuk sisa turnamen…

Game ketiga menghadapi salah satu team favorit juara yaitu SSTMi dari Malaysia. Di sinilah terlihat bahwa alasan fisik sebagai rintangan bermain Rugby secara baik adalah bohong belaka! Pemain SSTMi yang sama-sama Melayu bermain sangat ciamik dan cantik… Smart Rugby, winning Rugby… Mereka mengalahkan Banteng dengan telak (juju raja, gua berhenti menghitung saking memperhatikan gerakan-gerakan cantik team ini).
Game selanjutnya adalah melawan team Negeri Jiran yang lain dalam pool kami yaitu Serdang… Kembali Banteng harus menelan kekalahan yang cukup ‘ngenes’ tapi kembali kita mendapatkan pelajaran berharga tentang potensi permainan gaya Asia yang tepat. Jujur saja, hebatnya Banteng pada turnamen ini adalah tidak adanya kata “menyerah” sepanjang hari… Biarpun menghadapai kekalahan di depan mata, seluruh team tetap menjaga sikap positif dan berlari terus!

Menghadapi JJRG Samurai di game berikutnya, nasib Banteng diperburuk wasit kontroversial yang kita juluki “Si Kurus stuck-on-you” mengacu pada potongan rambutnya yang tidak jelas, seperti banyak keputusannya… Pendek cerita, kita harusnya bisa menang game ini namun tidak diberi kesempatan berkembang jadi ya… kalah deh… Nggak apa-apa sih, kasihan Junior (Dewa Rugby #1) yang team nya belum dapat kemenangan sepanjang turnamen… Jadi yang muda memang harus berbakti & mengalah kepada orang tua… hihihi…

Posisi Banteng selesai pertandingan pool berarti kita menghadapi Sumbawa Nagas di perempat final. Inilah ajang pembuktian berlapis ganda. Kita harus membuktikan kita layak mengalahkan team yang komposisi pemainnya sama-sama mayoritas orang Indonesia dan saat bersamaan, kita harus juga membuktikan bahwa kita tidak goyah di tingkat ‘knock-out’.

Game ini benar-benar menunjukkan kualitas permainan yang ada di Banteng. Sepanjang hari, inilah pertandingan terbaik Banteng yang layak diberi nilai 7.5/10 (tapi ya 7.5 itu belum bagus-bagus amat sih). Banteng menguasai dan mengontrol bola dan bermain 80% pertandingan di paruh lapangan Nagas. Bahkan nyaris 50% pertandingan di dalam areal 22-meter Nagas. Mereka sulit ditembus pertahanannya dan sekali diberi kesempatan untuk ‘keluar’, pasti merupakan ancaman yang sangat berbahaya namun beruntung Banteng dapat menerapkan strategi yang telah direncanakan sehingga dapat keluar sebagai pemenang.

Game semi-final adalah menghadapi satu lagi team Negeri Jiran yaitu Polytechnic Syah Alam (PSA). Game ini sudah terlihat berat sebelah dari menit-menit awal (sayangnya berat ke mereka dan bukan kita…).

Hikmah dari game ini adalah sekali lagi, semangat pantang menyerah dari Banteng serta dukungan positif di dalam maupun di pinggir lapangan dari sesama. Sesudah berusaha maksimal, Banteng menyerah dengan skor telak namun keluar lapangan dengan kepala tegak. Berakhirlah perjalanan kami di Jak Tens 2012.

Akhir kata, menurut perhitungan Fikri, Banteng ternyata masih ranking 7 dari seluruh peserta yakni 24 team terbaik yang ada di Indonesia & Asia Tenggara… Ini sangat menjanjikan dan sangat membanggakan namun tidak semanis membawa pulang piala kan…?

Marilah kita memperketat barisan, kobarkan semangat & maju terus bersama! All day long!